RINTIK Perkuat Ketertelusuran Kakao dan Buka Peluang Rantai Nilai bagi BUMDes di Kalimantan Barat
Berkolaborasi dengan Kalara Borneo, RINTIK mendorong ketertelusuran kakao sebagai pintu masuk menuju rantai pasok yang transparan dan harga yang lebih adil bagi petani kecil.

PONTIANAK — Ketika pasar semakin menuntut transparansi dan kepastian asal-usul produk, kemampuan desa dalam membangun rantai pasok yang dapat dipercaya menjadi semakin penting.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Rantai Telisik Komunitas (RINTIK) dalam Temu Kemitraan Desa Kalimantan Barat Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Kalimantan Barat di Pontianak, Kamis (13/8/2026).
Melalui pemaparan Yoshyro Adiguna, salah satu pendiri RINTIK, forum tersebut membahas pentingnya ketertelusuran sebagai bagian dari penguatan tata kelola komoditas, khususnya kakao.
Bagi RINTIK, ketertelusuran bukan hanya persoalan memenuhi tuntutan pasar, tetapi menjadi pintu masuk untuk membangun hubungan yang lebih adil dan transparan antara petani, kelembagaan desa, koperasi dan pembeli.
Ketertelusuran Bukan Sekadar Administrasi
Menurut RINTIK, tantangan pengembangan kakao tidak hanya terletak pada peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana produksi tersebut dikelola.
“Tantangan bukan hanya pada aspek produksi, tapi juga bagaimana tata kelola produksi.”
Ketertelusuran menjadi bagian penting dari tata kelola tersebut.
Dengan sistem ketertelusuran, perjalanan suatu komoditas dapat diketahui dengan lebih jelas, mulai dari asal bahan baku, proses produksi hingga rantai pasok yang dilaluinya.
RINTIK melihat tuntutan terhadap transparansi, ketertelusuran dan tata kelola yang baik semakin relevan dalam perdagangan berbagai komoditas, termasuk kakao.
Bagi RINTIK, ketertelusuran bukan semata-mata persyaratan untuk memasuki pasar tertentu.
Lebih jauh, ketertelusuran merupakan bagian dari upaya membangun kepercayaan dalam rantai pasok, sehingga informasi mengenai asal produk, praktik produksi dan pihak-pihak yang terlibat dapat menjadi bagian dari hubungan antara petani dan pembeli.
RINTIK dan Kalara Borneo Berkolaborasi
Dalam penguatan aspek tersebut, RINTIK berkolaborasi dengan Kalara Borneo dalam pengembangan ketertelusuran kakao.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun rantai pasok yang lebih transparan dan terpercaya, sekaligus membuka peluang agar potensi komoditas di tingkat desa dapat terhubung dengan kebutuhan pasar.
Bagi RINTIK, kerja sama tersebut merupakan bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk membangun sistem yang membuat komoditas desa memiliki identitas, tata kelola dan rantai pasok yang dapat dipercaya.
Pendekatan ini juga sejalan dengan gagasan RINTIK bahwa pembangunan desa membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dengan peran yang saling melengkapi.
BUMDes Menunjukkan Antusiasme
Gagasan tersebut mendapat respons cukup antusias dari peserta forum, khususnya para pengelola BUMDes.
Ketertarikan peserta terlihat dalam pembahasan mengenai peluang pengembangan komoditas desa melalui kemitraan yang tidak berhenti pada hubungan jual-beli, tetapi juga mencakup penguatan produksi, tata kelola, ketertelusuran, rantai pasok dan akses pasar.
Bagi BUMDes, pendekatan tersebut memberikan perspektif bahwa potensi ekonomi desa dapat dikembangkan lebih jauh apabila kelembagaan desa mampu mengambil posisi dalam rantai nilai.
BUMDes tidak hanya dapat berperan sebagai unit usaha yang membeli dan menjual komoditas, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses mengorganisasi potensi desa dan menghubungkannya dengan mitra di luar desa.
Antusiasme peserta menunjukkan bahwa kebutuhan desa tidak hanya berkaitan dengan mencari pembeli, tetapi juga mencari model kemitraan yang dapat membantu membangun usaha secara lebih terstruktur dari hulu hingga hilir.
Mengenal RINTIK
Rantai Telisik Komunitas (RINTIK) hadir dengan pendekatan yang berfokus pada penguatan petani kecil di Kalimantan Barat melalui sistem ketertelusuran.
RINTIK berjalan bersama petani kecil untuk membangun sistem yang menempatkan asal-usul produk, harga yang adil dan praktik berkelanjutan dalam satu catatan yang dapat ditelusuri—baik untuk petani, koperasi maupun pembeli.
Pendekatan tersebut berangkat dari persoalan sederhana tetapi penting: produk dari Kalimantan dapat melewati banyak tangan sebelum sampai kepada pembeli yang tidak pernah bertemu langsung dengan petani.
Karena itu, RINTIK ingin memperpendek jarak informasi tersebut.
Bagi RINTIK, sistem ketertelusuran bukan tujuan akhir. Sistem tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun percakapan yang lebih besar mengenai harga yang adil, praktik pertanian berkelanjutan dan posisi petani dalam rantai nilai.
Tiga Pendiri, Satu Arah Perubahan
RINTIK dibangun oleh tiga pendiri awal, yaitu Yoshyro Adiguna, M.P Pentadakosta dan Yeremias.
Ketiganya membawa perspektif yang saling melengkapi dalam membangun pendekatan RINTIK terhadap petani, ketertelusuran, keberlanjutan dan ekonomi lokal.
M.P Pentadakosta, salah satu pendiri RINTIK, menekankan pentingnya memastikan bahwa pemberdayaan masyarakat memiliki hubungan langsung dengan manfaat ekonomi.
“Pemberdayaan tanpa aspek ekonomi hanya menjadi lokakarya yang dilupakan orang setelah seminggu. RINTIK memulai dari ketertelusuran agar percakapan berikutnya adalah tentang harga yang adil, bukan sekadar urusan administrasi.”
Sementara Yeremias melihat ketertelusuran sebagai cara untuk membuat praktik berkelanjutan yang dilakukan petani memiliki nilai di mata pasar.
“Jika pembeli akhirnya dapat melihat bagaimana kami merawat lahan, agroforestri tidak lagi dipandang sebagai sebuah pengorbanan, tetapi menjadi sebuah cerita yang dapat kami jual. Itulah yang ingin kami bangun bersama RINTIK.”
Sedangkan Yoshyro Adiguna, yang hadir menyampaikan materi RINTIK dalam Temu Kemitraan Desa 2026, membawa gagasan mengenai penguatan ekosistem kakao dari hulu hingga hilir.
Ketiga perspektif tersebut bertemu pada satu gagasan besar: ketertelusuran harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat yang berada di hulu rantai pasok.
Dari Ketertelusuran Menuju Harga yang Lebih Adil
Bagi RINTIK, sistem ketertelusuran memiliki makna yang lebih jauh daripada sekadar mengetahui dari mana suatu komoditas berasal.
Ketika data dan informasi mengenai komoditas dapat ditelusuri, hubungan antara petani dan pembeli dapat dibangun dengan tingkat transparansi yang lebih baik.
Informasi mengenai asal produk, praktik produksi dan perjalanan komoditas dapat menjadi dasar untuk membangun kepercayaan.
Dari sana, pembicaraan dapat berkembang menuju kualitas, keberlanjutan dan harga yang lebih adil.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena petani kecil sering kali berada jauh dari pembeli akhir, sementara produk yang mereka hasilkan bergerak melalui banyak tangan sebelum mencapai pasar.
RINTIK berupaya memperpendek jarak informasi tersebut melalui sistem ketertelusuran yang dapat dipahami dan digunakan oleh para pihak dalam rantai pasok.
Menuju Industri Cokelat Desa
Penguatan ketertelusuran merupakan salah satu bagian dari visi RINTIK untuk mendorong pengembangan Industri Cokelat Desa.
Dalam konsep RINTIK, industri cokelat desa tidak hanya berbicara mengenai pengolahan kakao menjadi cokelat, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan budidaya, kelembagaan, kolaborasi, rantai pasok dan hilirisasi.
Dengan fondasi tersebut, desa memiliki peluang untuk bergerak dari pemasok bahan mentah menjadi bagian yang lebih kuat dalam rantai nilai.
Semakin banyak nilai tambah yang dapat diciptakan di tingkat lokal, semakin besar pula peluang ekonomi untuk berputar dan memberikan manfaat bagi masyarakat desa.
Karena itu, pengembangan kakao perlu diarahkan bukan hanya untuk menghasilkan komoditas, tetapi juga membangun sistem yang memungkinkan komoditas tersebut memiliki kualitas, identitas, ketertelusuran dan nilai tambah.
Pada akhirnya, keberhasilan pengembangan kakao harus terlihat pada meningkatnya kesejahteraan petani, menguatnya industri lokal, bergeraknya ekonomi desa dan terjaganya sumber daya alam.
Melalui penguatan budidaya, tata kelola, ketertelusuran, kelembagaan dan rantai pasok, RINTIK mendorong agar desa di Kalimantan Barat semakin siap terhubung dengan pasar dan mengembangkan produk bernilai tambah.
Bagi RINTIK, ketertelusuran bukan sekadar mencatat perjalanan sebuah komoditas. Ketertelusuran adalah cara untuk memastikan bahwa cerita, asal-usul, kerja dan nilai dari petani tidak hilang ketika produk meninggalkan desa.
